Sabtu, 16 Mei 2020
Artikel Bimas Islam - dibaca: 302 kali.

[ Hadis Harian 22 : Salat Idul Fitri Di Tengah Pandemi ]

Dari Abu Sa`id al-Khudri RA: bahwa Rasulullah senantiasa keluar di hari Idul Fitri dan Idhul Adha ke tanah lapang. Hal yang pertama kali beliau lakukan adalah salat, kemudian beliau berpaling dan berdiri di hadapan manusia.... (HR. Bukhari)

 

Penjelasan Hadis

Hadis ini menceritakan sunnah perbuatan Nabi Muhammad SAW terkait pelaksanaan salat Idul Fitri dan Idul Adha. Beliau senantiasa melaksanakan salat `Id di tanah lapang kecuali jika dalam kondisi hujan, maka beliau melaksanakan salat `Id di masjid. Pelaksanakan salat Id di tanah lapang karena saat itu kondisi masjid tidak menampung jamaah besar.

 

Kalimat “mushalla” dalam hadis ini bukanlah diterjemahkan masjid atau mushalla yang dikenal di Indonesia, tetapi sebuah lokasi di kota Madinah yang luasnya mencapai 480 meter menurut mayoritas ulama. Sehingga kata “mushalla” sering diartikan tanah lapang. Namun substansi kata “mushalla” adalah suatu tempat yang dapat menampung jamaah dalam jumlah besar. Jika terdapat masjid yang berkapasitas besar maka pelaksanaan salat `Id di masjid lebih dianjurkan.

 

Salat Idul Fitri di Rumah 

Salat Idul Fitri disunnahkan bagi setiap muslim, baik laki laki maupun perempuan, merdeka maupun hamba sahaya, dewasa maupun anak-anak, sedang di kediaman maupun sedang bepergian (musafir), secara berjamaah maupun secara sendiri (munfarid). Salat Idul Fitri sangat disunnahkan untuk dilaksanakan secara berjama`ah di tanah lapang, masjid, dan mushalla.

 

Pada situasi pandemi Covid-19, kawasan dengan tingkat penyebaran Covid-19 terkendali yang ditandai penurunan angka penularan maka boleh melaksanakan salat `Id dengan syarat memenuhi protokol kesehatan dan khutbah disampaikan dengan singkat. Adapun pada kawasan yang tingkat penyebaran virus tidak terkendali, maka pelaksanaan salat Idul Fitri dapat dialihkan dari masjid, mushalla, atau lapangan terbuka ke rumah yang hanya melibatkan anggota keluarga. Pada kondisi seperti ini kita mendapatkan udzur syar`i yang membolehkan mengambil keringanan (rukhshah) yaitu rasa takut terjangkit virus atau tersebarnya virus terus secara lebih luas. Dalam kondisi tersebut, kita memang tidak memiliki pilihan selain keharusan untuk menjaga jarak dari kerumunan/pembatasan sosial (social distancing).

 

Udzur pembatasan sosial (social distancing) dalam pencegahan dan penanganan Covid-19 yang terjadi di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia dapat ditarik ke dalam cakupan udzur lainnya. Dari sini kemudian kita dapat memahami putusan keagamaan sejumlah lembaga, institusi, dan ormas keagamaan yang menganjurkan masyarakat untuk melaksanakan salat Idul Fitri di rumah dengan jumlah jamaah yang terbatas.

 

Menurut Imam an-Nawawi dalam kitab Raudhatu al-Thalibin bahwa menurut madzhab Syafi`i bahwa salat `Id dapat dapat dilaksanakan secara munfarid (sendiri) di rumah atau tempat lain, baik bagi musafir, wanita, maupun hamba sahaya.

 

Tata Cara Salat Idul Fitri di Rumah

Salat Idul Fitri yang dilaksanakan di rumah dapat dilakukan secara berjamaah maupun sendiri (munfarid). Jika dilaksanakan secara berjamaah, maka ketentuannya sebagai berikut:

 

1. Jumlah jamaah yang salat minimal 4 orang, satu orang imam dan 3 orang makmum. Bahkan menurut Imam Ala` al-Din al-Samarqandy, salat `Id boleh dilaksanakan minimal 2 orang.

 

2. Kaifiat salat `Id Fitri sebagai berikut:

a. Memulai dengan niat salat Idul Fitri dengan lafazh; “Aku berniat salat sunnah Idul Fitri dua rakaat (menjadi makmum/imam) karena Allah ta`ala

b. Membaca takbiratul ihram sambil mengangkat kedua tangan.

c. Membaca doa iftitah.

d. Membaca takbir pada rakat pertama sebanyak 7 (tujuh) kali (di luar takbiratul ihram) dan di antara tiap takbir itu dianjurkan membaca: subhâllâh wal hamdulillah wa la ilâha illa Allâh wa allahu akbar.

e. Membaca surah al-Fatihah, dilanjutkan membaca surah pendek dari Al Quran.

f. Ruku`, sujud, duduk di antara dua sujud, dan seterusnya hingga berdiri lagi seperti salat biasa

g. Membaca takbir pada rakaat kedua sebanyak 5 (lima) kali, dan di antara tiap takbir itu dianjurkan membaca: subhâllâh wal hamdulillah wa la ilâha illa Allâh wa allahu akbar.

h. Membaca Surah al-Fatihah, diteruskan membaca surah yang pendek dari Al-Quran.

i. Ruku`, sujud, dan seterusnya hingga salam.

j. Setelah salam, disunnahkan mendengarkan khutbah Idul Fitri

 

3. Pelaksanaan khutbah dilakukan secara singkat dengan tata cara sebagai berikut:

a. Khutbah Pertama

- Khutbah pertama diawali membaca takbir sebanyak sembilan kali

- Memuji Allah dengan sekurang-kurangnya membaca alhamdulillah

- Membaca shalawat nabi SAW

- Berwasiat takwa

- Membaca ayat Al-Qur`an

 

b. Khutbah kedua

- Membaca takbir sebanyak tujuh kali

- Memuji Allah dengan sekurang-kurangnya membaca alhamdulillah

- Membaca shalawat nabi SAW

- Berwasiat takwa

- Mendoakan kaum muslimin

 

4. Jika jumlah jamaah kurang dari empat orang, atau jika dalam pelaksanaan salat jamaah di rumah tidak ada yang berkemampuan untuk khutbah, maka salat Idul Fitri boleh dilakukan berjamaah tanpa khutbah.

 

Amalan Sunnah Salat Idul Fitri di Rumah

Adapun amalan sunnah pelaksanaan salat Idul Fitri di rumah antara lain:

 

1. Mandi dan memotong kuku

2. Memakai pakaian terbaik dan wangi-wangian

3. Makan sebelum melaksanakan salat Idul Fitri

4. Mengumandangkan takbir hingga menjelang salat

5. Saling bersalaman dan bermaafan dengan mengucapkan: taqabalallâhu minnâ wa minkum.

 

Demikian, semoga bermanfaat.

 

Subhan Nur, Lc, M.Ag

(Kepala Seksi Pengembangan Metode dan Materi Dakwah Dit. Penerangan Agama Islam)

 

Sumber : https://bimasislam.kemenag.go.id/

 


Bagikan Artikel ini

 



Stylish Tabbed Navigation Demo

» Soal Hadiah untuk NU, Menag: Itu Motivasi Internal, Kebijakan Kemenag untuk Semua Agama.
» Gus Yaqut Tegaskan Kemenag Milik Semua Agama.
» Kemenag Susun Modul Pendidikan Agama Islam bagi SLB.
» 11 Peserta KSM NTT, Ikuti KSM Tingkat Nasional 2021.
» 76.617 Pelajar Ikuti Kompetisi Sains Madrasah 2021.
» Tutup Kegiatan STQH XXVI, Dirjen Bimas Islam Harapkan Umat Islam Semakin Cinta Al-Qur`an.
» STQH Nasional XXVI Ditutup, DKI Jakarta Juara Umum.
» Hari Santri di NTT, Moment Siap Belajar Tatap Muka.
» Kemenag Akan Tambah Pembimbing Haji Perempuan.
» Ditjen PHU Luncurkan Buku Manasik Haji dan Umrah Masa Pandemi.

» Kiat Menumbuhkan Kasih Sayang.
» Syekh Ali Jum`ah: Rasulullah Tidak Memerintahkan Kita Mendirikan Khilafah untuk Kedua Kalinya.
» Kisah Orang Badui Lari dari Shalat Jamaah Karena Imamnya Kelamaan.
» Sejarah Awal Mula Adzan.
» Sebelum Dibayar, Hutang Dibawa Mati.
» Puasa Arafah Penghapus Dosa.
» Larangan Membocorkan Rahasia.
» Ini Amalan yang Paling Dicintai Allah.
» Peringatan Rasul terhadap Orang yang Shalat Terburu-Buru.
» Mukmin Adalah Orang yang Ramah.

Layanan HAJI
» Pendaftaran Haji
» Penundaan Berangkat Haji
» Percepatan Berangkat Haji
» Penggabungan Mahram dan Pendamping Haji
» Pembatalan Berangkat Haji
» Penyewaan Gedung Asrama Haji
» Cek Estimasi Keberangkatan.

Layanan Bimas Islam
» Rekomendasi Nikah
» Pendaftaran Nikah
» Akad Nikah
» Pencatatan Nikah
» Penerbitan Duplikat Akta Nikah
» Legalisasi Duplikat Akta Nikah
» RUJUK
» Rekomendasi Pendirian Masjid
» Rekomendasi Bantuan Rehabilitasi Masjid/ Musala