Senin, 10 Nov 2014 - 14:04:27 WIB
Berita Kategori: Lainnya - Dibaca: 1851 kali.

K.H. Wahab Hasbullah, dinobatkan Presiden Jokowi sebagai Pahlawan Nasional di Hari Pahlawan 10 November 2014

Kupang, be Master News (Bidang Haji dan Bimas Islam) - Apel memperingati Hari Pahlawan 10 November 2014 Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Timur, dilaksanakan di halaman rumah jabatan Gubernur NTT, yang diikuti semua elemen masyarakat, mulai pelajar, TNI, ASN serta tokoh, agama dan tokoh masyarakat. Dalam apel juga disampaikan teks pesan-pesan pahlawan nasional, sambutan menteri Sosial dan UKM, Khofifah Indar Parawansa dan do`a dibacakan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur, Drs. Sarman Marselinus.

Yang menjadikan istimewa dalam moment peringatan Hari Pahlawan tahun ini adalah Presiden ke 7 Negara Republik, Ir. H. Joko Widodo, menobatkan 4 para pejuang kemerdekaan masuk dalam jajaran pahlawan nasional, salah satunya adalah K.H. Wahab Hasbullah.

Maka kali ini, sungguh tidak berlebihan jika Be Master News menurunkan tulisan tentang catatan perjuangan KH. Wahab Hasbullah sebagai pejuang Islam dari kalangan pesantren, sebagai ibrah bagi kita semua sebagai bagian dari penerus perjuangan.

KH. Abdul Wahab Hasbullah, Rais Aam Syuriah PBNU setelah KH Hasyim Asy’ari adalah salah satu tokoh pendiri NU dan juga Laskar Mujahidin saat melawan penjajah Jepang di era revolusi kemerdekaan. Proses menuju sebuah penganugerahan gelar pahlawan ini cukup berliku dan telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Namun akhirnya pemerintah Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara resmi mengakui KH Wahab Hasbulloh sang pencetus revolusi jihad, sebagai Pahlawan Nasional.


Pemerintah memberikan gelar itu kepada keluarga salah satu pendiri jamiyah Nahdlatul Ulama (NU) ini pada hari Senin 10 November 2014. Salah satu ahli waris diundang ke Istana Negara Jakarta, untuk menerima Surat Keputusan (SK) Presiden tentang penetapan Kiai Wahab sebagai Pahlawan Nasional. Keenam putra mbah wahab yang masih hidup di undang ke istana Negara untuk menerima gelar kepahlawanan Mbah Wahab yang diberikan oleh Presiden RI, Jokowi.

Dalam catatan sejarah juga dijelaskan, ketika fatwa Resolusi Jihad dikeluarkan Rois Akbar PBNU KH Hasyim Asy’ari dalam pertemuan ulama dan konsul-konsul NU se-Jawa dan Madura di Surabaya, Kiai Wahab yang waktu itu menjadi Khatib Am PBNU bertugas mengawal implementasi dan pelaksanaan di lapangan.


Fatwa tersebut akhirnya menjadi pemantik pertempuran heroik 10 November di Surabaya untuk mengusir Belanda yang ingin kembali menjajah dengan cara membonceng tentara Sekutu. Beliau juga pendiri Nahdlatul Wathon, seperti syair perjuangan yang ditulis oleh mbah Wahab yakni, Ya Ahlal Wathan Minal Iman, menurut Munjidah Wahab, putra Kyai yang juga saat ini menjadi Wakil Bupati Jombang, Jawa Timur.


Resolusi jihad yang di gelorakan pada waktu itu ialah bagian dari panji perjuangan yang digelorakan oleh Mbah Wahab sebagai sang deklarator, dengan tujuan kepastian hukum fiqhnya. Karena barang siapa berperang dibawah panji yang tidak jelas, jika kemudian ia terbunuh maka ia tidak ada nilai kesyahidan sama sekali.


KH. Wahab Hasbullah yang akrab dipanggil, merupakan pendiri Pondok Pesantren  Tambak Beras Jombang ialah sosok yang berfikir ontologis fundamentalis, dan pernah menimba ilmu kepada Hos Cokroaminoto, sehingga mempunyai pemikiran mendirikan negara adalah tujuan besar, tapi jika tidak tercapai tujuan kostitusi negara di utamakan daripada pendirian negara agama.


Sebagaimana diberitakan, Presiden Joko Widodo juga memberikan penganugerahan gelar pahlawan nasional, senin 10 November di Istana Negara, kepada empat pejuang yakni Letjen TNI (Purn) Djamin Ginting (asal Sumatera Utara), KH Abdul Wahab Hasbullah (asal Jombang, Jawa Timur), Sukarni Kartodiwerjo (asal Jawa Timur) dan Muhammad Mangundiprojo (asal Jawa Tengah). (Aida Ceha – AP Untuk Indonesia)


Bagikan Berita ini