Selasa, 14 Sept 2020
Berita Kemenag Pusat - dibaca: 44 kali.

[ Guru MODIIS dan Masa Depan Pendidikan Indonesia ]

Guru adalah salah satu bagian penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan. Tugas guru tidak sederhana, karena bukan sekedar memberikan informasi dan sejumlah mata pelajaran di depan peserta didik. Tugas terberat guru adalah membantu peserta didik mewujudkan impian-impiannya di masa depan. Oleh sebab itu, peran guru tidak hanya sebagai pembimbing akademik tetapi juga harus mampu membekali mindset inovatif. Sehingga, anak didik bisa selalu siap untuk melakukan perubahan yang responsip dimanapun dan kapanpun.

Di samping itu, hal yang tidak kalah penting adalah keteladanan yang mengesankan sepanjang kehidupan. Guru harus berusaha menjadi sumber  inspirasi, role model, dan membuat catatan sejarah yang akan terus dikenang, baik ucapan, tindakan, dan nasehat-nasehat bijaknya oleh peserta didik sepanjang masa.

Kalau melihat peran tersebut, maka tugas dan tanggungjawab guru tidaklah ringan. Peningkatan kualifikasi dan proses sertifikasi saja tidak cukup untuk mengantarkan seseorang menjadi pendidik atau guru idola yang ideal. Belum lagi tantangan yang harus dihadapi guru terkait dengan pelbagai perubahan yang sangat dinamis dan variasinya cukup kompleks. 

Kondisi ini juga akan menggeser peran pendidik yang tadinya sebagai aktor pendidikan yang sangat dominan, kini mulai tergantikan oleh media digital yang bisa melayani kebutuhan peserta didik dengan cepat, canggih, dan tidak tergantung waktu dan tempat. Oleh karena itu, untuk menjawab tantangan kekinian dan sekaligus mengantisipasi tuntutan-tuntutan yang futuristik, kehadiran sosok Guru MODIIS (Moderat, Inovatif, dan Inspiratif) sangat diidolakan.

 

Moderat

Selama ini, Direktorat Jenderal Pendididikan Islam melakukan pelbagai upaya untuk melatih para guru menjadi agen pengarusutamaan transformasi Moderasi Beragama yang akan mengantarkan pemahaman yang kritis, reflektif, terbuka dan toleran melalui pengembangan ranah kognisi, afeksi, dan motorik. Hal itu diwujudkan dengan pengembangan nilai-nilai keagamaan Islam yang moderat sebagai aktualisasi  visi Islam rahmatan lil alamin (ISRA).

Direktorat Jenderal Pendidikan Islam menyadari betul bahwa peran guru menempati posisi sentral yang sangat penting dan strategis dalam menanamkan pemahaman moderat. Dalam konteks itu, guru yang mengerti falsafah pendidikan dan tidak berpandangan tunggal dalam keberagamaan dapat memainkan peran penting dalam membina anak didik.

Secara sederhana, guru yang moderat adalah guru yang mampu memberikan pemahaman yang tidak tunggal dan tidak bersifat doktriner sehingga tidak mudah menganggap pandangan pihak lain menyimpang. Guru adalah panutan yang menjunjung perdamaian dan menghargai perbedaan. Dialog dan diskusi menjadi jembatan penghubung sebagai persemaian Moderasi Beragama yang dilakukan oleh guru. Dialog dan diskusi yang dilakukan oleh guru tidak bersifat memaksa tapi sebagai bahan untuk memperkaya pengetahuan. Hal ini diwujudkan sebagai evaluasi agar para siswa tidak teracuni dan tak terobsesi oleh yang terbenar (the only truth) dan kuasa (power).

Untuk mewujudkan hal itu, guru dituntut untuk memberikan atmosfir pembelajaran yang mengajarkan tentang toleransi. Guru adalah narasumber yang moderat yang menjadi delegasi untuk menguatkan ikhtiar pembumian Moderasi Beragama. Dengan kata lain, guru adalah perwujudan dari persemaian suatu sistem yang mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap karena menjadi bagian peletak dasar pengertian dan konsep moral dalam diri siswa.

Pengarusutamaan Pendidikan Islam yang moderat dapat dilakukan guru dengan dua jalur, yaitu: moderasi wacana dan moderasi perilaku. Moderasi wacana menjadi strategi dalam penguatan sikap moderat mulai pemikiran dan ideologi dengan menampilkan sikap tawasuth dalam perjuangan menyebarkan syiar Islam, terbuka terhadap ajaran, ideologi, kepercayaan, dan lain sebagainya. Sementara moderasi perilaku menjadi strategi dalam penguatan sikap moderat yang ditindaklanjuti dengan  perilaku toleran terhadap pihak lain yang berbeda pandangan.

 

Inovatif

Guru yang mengajar dan mendidik para siswa hari ini hakekatnya adalah untuk menyiapkan mereka hidup dan menghadapi tantangan masa depan. Oleh karena itu, orientasi pembelajaran harus mampu membaca perubahan-perubahan yang akan terjadi di masa depan. Tanpa pemahaman seperti ini maka yang dilakukan guru akan sia-sia karena peserta didik hanya mampu menceritakan apa yang diajarkan oleh guru tetapi bekal pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa dari guru tidak mampu merespon tantangan yang sedang terjadi. Bahkan yang diperlukan sesungguhnya bukan hanya berfikir reaktif tetapi lebih jauh harus yang bersifat proaktif dan futuristik.

Anak didik harus dilatih berfikir dan bertindak reaktif yang mampu merespon isu dan peristiwa kekinian. Banyak peristiwa yang terjadi hari ini tidak pernah kita duga dan fikirkan sebelumnya sehingga banyak diantara kita termasuk anak-anak didik kita yang gugup dan gagap meresponnya. Adanya Covid-19 yang melanda kita saat ini, dunia pendidikan sangat merasakan dampaknya. Lembaga pendidikan yang banyak memamerkan keindahan dan kemegahan bangunan fisik selama ini sangat terasa tidak ada maknanya ketika tidak ada pembelajaran tatap muka. 

Mereka yang selama ini telah memulai dengan belajar on-line (daring) menjadi pilihan yang tepat. Akhirnya kita juga bisa menyimpulkan, dalam kondisi seperti sekarang ini yang terpenting diperhatikan adalah unsur pengajar, yang belajar dan yang diajarkan. Waktu belajar bisa dilaksanakan kapan saja dan tempat untuk belajar bisa dilaksanakan di mana saja.

Dengan pembelajaran secara on-line (daring) yang sudah mulai masif dilaksanakan oleh lembaga-lembaga pendidikan, hal ini sudah bisa menjawab atau merespon sebagian kebutuhan-kebutuhan pembelajaran. Kita harus bekerja lebih keras lagi dan mencoba berfikir futuristik kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pasca Covid-19 ini agar dunia pendidikan tidak gugup dan gagap seperti selama ini. Budaya-budaya inovasi dan membangun kreativitas adalah solusinya.

Kebanggaan terhadap ranking raport atau Indeks Prestasi bukan menjadi prioritas utama, meski ini masih dibutuhkan. Lebih dari itu, memunculkan insan pendidikan yang inovatif dan kreatif akan lebih penting untuk menjawab tantangan-tantangan kehidupan di masa yang akan datang.

Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk sesama, bukan yang IPnya 4 atau yang selalu ranking satu. Hari ini kita bisa bertanya kemana keberadaan mereka dan d imana kiprahnya. Padahal dulu di kelas atau ketika mereka diwisuda mendapatkan banyak ucapan selamat, karangan bunga dan dipuja-puja. Bukan itu tidak penting dan tidak berguna, tetapi kalau hanya berhenti di situ saja, ini hanya akan menjadi cerita dan nostalgia. Itu sebenarnya awal yang baik dan jika mindset inovatif itu terus bisa dijaga maka akan banyak karya-karya dan temuan yang bermakna.

Para pendidik, di samping terus memelihara potensinya terutama menjaga mindset inovatif, mereka juga berkewajiban menanamkan mindset inovatif kepada para peserta didik. Dalam benak peserta didik, harus betul-betul tertanamkan mental ingin berubah, melakukan hal-hal yang pertama, yang terbaik dan berbeda. Kesan selama ini yang hanya berlomba-lomba mengejar ranking dan pencapaian Indek Prestasi (IP) tertinggi harus dibarengi dengan perubahan. Anda sudah berada pada posisi yang tepat namun Anda akan tergilas jika diam di tempat.

 

Inspiratif

Hingga menyelesaikan jenjang pendidikan Strata Satu (S1), sudah berapa banyak guru yang sudah bertemu dengan kita dan memberikan sejumlah mata pelajaran masing-masing. Setiap guru yang hadir di depan kelas selalu mengatakan bahwa pelajaran yang diampunya penting. Semua peserta didik wajib memperhatikan dan diminta untuk menyimak dengan sungguh-sungguh. Bahkan ada yang setengah mengancam dan menakuti manakala kita tidak bisa menguasai pelajaran yang diberikan. Semua guru hampir melakukan hal sama.

Ekspektasi para pendidik seperti ini sebenarnya tidak adil karena kemampuan gurunya sendiri juga hanya satu bidang sementara anak didik diminta dan dituntut menguasai semuanya. Layanan yang kita berikan kepada peserta didik semestinya layanan yang beragam yang mampu melayani keragaman kecerdasan. Karena kita ketahui dan sadar bahwa pada akhirnya kelak, anak didik kita akan optimal perannya sesuai dengan optimalisasi kecerdasan yang dimiliki.

Masing-masing kita beda tetapi semua kita pasti memiliki kenangan dari salah satu mereka. Kita pasti ingat terhadap guru atau dosen kita sewaktu duduk dibangku Sekolah Dasar, Menengah atau Perguruan Tinggi. Pada setiap tingkatan tersebut pasti ada salah salah dari para guru tersebut yang tetap terus kita kenang dan sulit untuk dilupakan meskipun kita sudah tidak ingat lagi materi pelajaran apa yang pernah disampaikan. Itulah guru idola, pujaan, dan inspiratif.

Banyak di antara kita hari ini melakukan pelabagi aktivitas, model dan ragam kegiatan karena inspirasi dari guru-guru kita. Ada yang terkesan dengan ucapan-ucapannya, prilaku kesehariannya, cara mengajar dan lain-lain. Bahkan dalam pelbagai kesempatan kita sering sebut-sebut  namanya dan yang pasti kita wajib mendoakannya. Pancaran keikhlasan yang tertangkap oleh setiap anak didik inilah yang menjadikan kata-kata yang keluar, tindakan-tindakan dipertontonkan dan do`a-do`a mereka mampu menembus jiwa peserta didik dan dijadikan panutan, motivasi, mindset inovatif dan gerakan-gerakan perubahan sepanjang zaman.

Kita sebagai guru harus sungguh-sungguh menyampaikan materi pelajaran, bekerja keras agar kelak anak-anak bisa meneruskan sekolah dan perguruan tinggi favorit yang bisa membanggakan institusi. Sekali lagi ini semua adalah titik tiba sementara. Sedangkan mereka yang telah berhasil menghadapi tantangan kehdupan, keberadaannya dirasakan mafaatnya oleh sesama dan selalu mengoptimalkan taqdir yang diterimanya, ini adalah berhasilan guru yang mampu ditranfer dan diabadikan oleh peserta didik. Inilah namanya inspirasi.

 

Imam Safe`i (Pasien Isolasi Covid-19)

 

Sumber : https://kemenag.go.id/


Bagikan Berita ini

 




Stylish Tabbed Navigation Demo

» Bimas Islam Bekali PAI Pemahaman Administrasi Wakaf.
» Program Penguatan Kompetensi Penceramah Agama Resmi Diluncurkan.
» Penguatan Kompetensi Penceramah, Kemenag: Terbuka untuk Seluruh Ormas.
» Kemenag Targetkan Tahun 2024 Semua Gedung KUA Kokoh Berwibawa.
» Wamenag: Tidak Ada Lagi Penceramah Bersertifikat.
» Kemenag Rilis Program Penguatan Kompetensi Penceramah Agama.
» Kabar Gembira, Kemenag NTT Masuk 5 Besar.
» Rakornas Kemasjidan: Masjid Sebagai Basis Pemberdayaan Ekonomi Hingga Literasi Keagamaan.
» Azyumardi Azra: Perlu Peningkatan Kapabilitas dan Kompetensi Penceramah.
» Wamenag Buka Sosialisasi Program Bimtek Penceramah Agama Bersertifikat.

» Syekh Ali Jum`ah: Rasulullah Tidak Memerintahkan Kita Mendirikan Khilafah untuk Kedua Kalinya.
» Kisah Orang Badui Lari dari Shalat Jamaah Karena Imamnya Kelamaan.
» Sejarah Awal Mula Adzan.
» Sebelum Dibayar, Hutang Dibawa Mati.
» Puasa Arafah Penghapus Dosa.
» Larangan Membocorkan Rahasia.
» Ini Amalan yang Paling Dicintai Allah.
» Peringatan Rasul terhadap Orang yang Shalat Terburu-Buru.
» Mukmin Adalah Orang yang Ramah.
» Penjelasan Rasulullah tentang Tanda Kiamat.

Layanan HAJI
» Pendaftaran Haji
» Penundaan Berangkat Haji
» Percepatan Berangkat Haji
» Penggabungan Mahram dan Pendamping Haji
» Pembatalan Berangkat Haji
» Penyewaan Gedung Asrama Haji
» Cek Estimasi Keberangkatan.

Layanan Bimas Islam
» Rekomendasi Nikah
» Pendaftaran Nikah
» Akad Nikah
» Pencatatan Nikah
» Penerbitan Duplikat Akta Nikah
» Legalisasi Duplikat Akta Nikah
» RUJUK
» Rekomendasi Pendirian Masjid
» Rekomendasi Bantuan Rehabilitasi Masjid/ Musala